Wednesday, December 22, 2021
Masa Pertemanan yang Kuharap Tidak Pernah Berakhir
Tuesday, June 29, 2021
Patah Hati
Aku kira, aku tidak perlu merasakan hal seperti ini lagi jika bersamamu, Sayang.
Nyatanya, aku merasakannya.
Sudah beberapa hari ini.
Bukan, bukan karena perpisahan.
Namun, rasa sakit ini, rasanya seperti patah hati.
Wednesday, January 6, 2021
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Covid-19 di Bidang Pendidikan oleh Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat mengadakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik sebagai salah satu kewajiban dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan KKNT ini biasanya dilaksanakan secara luring. Namun, kondisi di Indonesia saat ini tidak memungkinkan untuk diadakannya kegiatan yang dapat mengumpulkan banyak orang di suatu tempat demi mengurangi angka penyebaran virus Covid-19. Oleh karena itu, kegiatan KKNT ini dilaksanakan secara daring. Kemudian, tema yang diusung kali ini disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat, yaitu Edukasi Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Covid-19 yang difokuskan pada bidang pendidikan dan ekonomi.
Pada kegiatan KKNT PPD Covid-19 kali ini, penulis memfokuskan kegiatan di bidang pendidikan. Pada program ini, penulis melaksanakan pembuatan media pembelajaran untuk guru, pendampingan siswa dalam pembelajaran daring, dan pendampingan orang tua murid dalam membimbing anak pada pembelajaran daring.
Pada pembuatan media pembelajaran, penulis membantu seorang guru bahasa Inggris dalam membuat powerpoint yang dikonversi menjadi video.
Pada pendampingan siswa, penulis berusaha semaksimal mungkin membantu siswa pada mata pelajaran yang sulit dipahami. Penulis juga membantu kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran daring.
Pada pendampingan orang tua, penulis berusaha membantu orang tua mencari solusi atas kesulitan yang dihadapi orang tua selama mendampingi anaknya dalam pembelajaran daring.
Sunday, October 4, 2020
Pendewasaan
Tiga hari yang lalu, aku bertemu dan mengobrol dengan temanku. Dari percakapan kami di hari itu, ada dua kalimat yang terpatri di kepalaku. Kurang lebih seperti ini: “orang punya hak untuk gak cerita” dan “niatnya ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing mau pacaran sama maneh’”
“orang
punya hak untuk gak cerita”
Ya,
memang benar. Maka dari itu, entah sejak kapan, aku mulai belajar untuk tidak
menanyakan hal-hal personal sebelum orangnya cerita terlebih dahulu. Meskipun
itu teman dekatku sekali pun. Bukan tidak peduli, tetapi berusaha mengurangi kekepoan akan hidup orang lain. Aku
tidak harus mengetahui segala hal yang ada di hidup temanku. Begitu pun
sebaliknya. Kalau pun aku menanyakan tentang hidup mereka, ya, yang aku tanya
hanya hidup mereka secara general. Seperti bagaimana kabar mereka akhir-akhir
ini? Adakah hal-hal yang mengganggu? Hanya hal-hal seperti itu. Jika mereka
jawab semuanya baik-baik saja padahal aku tahu ada sesuatu yang tidak baik-baik
saja, ya, aku hargai hak mereka untuk tidak bercerita. Namun, akan aku tekankan
apabila mereka butuh tempat bercerita, aku akan ada untuk mendengarkannya. Aku
tidak akan memaksa mereka bercerita, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku ada
untuk mereka.
“niatnya
ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing
mau pacaran sama maneh’”
Aku
sangat setuju dengan kalimat di atas. Aku pun merasakan perbedaannya. Di saat
aku “mengejar” seseorang dengan tujuan ‘aku harus berpacaran dengan dia’,
kemungkinan kecewanya sangat besar. Entah karena aku akhirnya tidak mendapatkan
orang tersebut atau di saat aku sudah bersatu dengan orang yang aku inginkan,
ternyata banyak hal tentang orang tersebut yang tidak dapat aku terima. Dan
apabila tujuannya seperti itu, ada kemungkinan apa yang kita rasakan akan
berubah menjadi sebuah obsesi, tanpa kita sadari. Namun, di saat aku berniat
untuk membangun hubungan baik dengan seseorang yang memang menarik untukku,
semuanya terasa lebih nyaman. Nyaman karena tidak ada keharusan bahwa aku dan
orang tersebut harus bersatu. Jika memang saling merasa nyaman untuk melangkah
ke hubungan yang lebih dari pertemanan, kami bisa menjalaninya dengan santai.
Apabila tidak ada hal-hal spesial yang terasa di antara kami, ya, sudah, toh
dari awal kami memang hanya ingin berteman baik. Tidak ada kekecewaan yang menyakitkan.
Rasanya
semakin bertambah umurku, semakin banyak obrolan-obrolan yang aku resapi dan
jadikan pembelajaran. Obrolan seperti ini seringkali membuatku berpikir
kembali, apakah pandangan hidupku sudah tepat untukku dan orang-orang di
sekitarku? Jadi, bukan hanya sekadar mengobrol untuk menghabiskan waktu. Dan hal
ini benar-benar membuatku belajar pelan-pelan merangkak menapaki tangga
pendewasaan diri satu persatu.
Sunday, August 23, 2020
Tembok Tinggi
Entah
ada angin apa, tiba-tiba aku ingin sekali menuliskan tentang seseorang yang
pernah singgah di hidupku-walaupun
sangat sebentar. Namun, dia membuat diriku berubah. Berubah menjadi ‘si
pengecut’. Dulu, aku adalah orang yang sangat percaya diri, terutama dalam hal
percintaan ha ha ha. Untuk urusan berkenalan dengan orang baru, sih, aku termasuk orang yang pemalu. Namun,
kalau aku sudah kenal dengan seseorang dan aku menyukainya, aku akan dengan
agresif menunjukkan rasa sukaku pada orang tersebut. Namun, semuanya berubah
saat negara api menyerang (?) ha ha ha, maksudku, semuanya berubah saat aku
mengenal dirinya. Aku ingat sekali hari itu hari Rabu, jam istirahat pertama
setelah kelas matematika. Aku masih kelas 10 pada saat itu. Aku sedang
sendirian di kelas karena teman-temanku semuanya sedang ke kantin, hanya aku
saja yang tetap berada di kelas. Tiba-tiba ada dua orang lelaki datang ke
kelasku-sebut
saja mereka si G dan si A, mereka kakak kelasku. Jelas sekali aku tahu maksud
mereka datang ke kelasku untuk apa: untuk mencari temanku yang digebet oleh G. Setelah berbasa-basi
menanyakan temanku, tiba-tiba si A mendekatiku dan menyodorkan handphone-nya padaku.
“Boleh
minta ID Line kamu?” kata kakak
kelasku itu. Dia memiliki perawakan yang lebih tinggi, lebih berisi dari gebetan temanku, dan memakai kacamata.
Aku tanya,
“buat apa?”
“Biar
lebih deket aja,” jawab A. Aku dengan spontan langsung mendengus saat mendengar
jawabannya. Namun, bodohnya, aku malah memberikan ID Line-ku padanya. Setelah itu mereka keluar dari kelasku. Beberapa
saat kemudian, teman-temanku mulai kembali satu-persatu ke kelas. Dan tiba-tiba
ada segerombolan temanku bilang, “Fan, ada salam dari Kak A. Tadi dia nanyain
rumah kamu di mana”. Aku berusaha untuk menganggap itu sebagai angin lalu saja.
Beberapa
hari setelah itu, muncul chat dari A.
Aku lupa dia basa-basi apa saja, tapi akhirnya dia menawarkan untuk berangkat
ke sekolah bersama. Aku sempat menolaknya beberapa kali, tapi dia tetap memaksa
dan akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Di dalam mobilnya, aku benar-benar tidak
tahu harus bicara apa. Jadi, aku hanya melihat ke arah luar jendela dan
sesekali menjawab pertanyaannya. Kami tidak masuk ke sekolah bersama karena dia
harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Aku berusaha untuk tidak ge-er
hanya karena dijemput oleh A. Namun, saat jam istirahat, dia datang dengan
teman-temannya ke selasar kelas IPS. Bahkan mereka mencariku juga. Entah kenapa
di situ aku merasa yakin bahwa dia memang berniat mendekatiku.
Namun,
setelah hari itu, A menghilang. Tidak pernah ada chat darinya lagi. Sampai suatu hari aku bertemu dengan dia di
kantin, tapi dia hanya diam saja. Akhirnya begitu sampai di kelas, aku
berinisiatif untuk mengirimkan chat duluan
pada A, tapi tidak ada jawaban. Padahal aku melihatnya sedang menggunakan handphone saat melewati kelasku. Aku cukup
kecewa karena tidak ada balasan darinya. Jadi, ya, sudah, aku anggap tidak terjadi
apa-apa di antara kami.
Aku pikir
semuanya akan berhenti di hari itu. Ternyata, keesokan harinya, dia dan G
datang lagi ke kelasku. Pagi itu, di kelas baru ada aku dan dua teman
laki-lakiku. G bertanya pada kami, “S belum dateng?”. Teman-temanku menjawab
sekenanya saja. Kemudian, G dengan iseng mengatakan, “eh, A, itu si Fani”. Jujur,
aku tidak mengharapkan jawaban apa pun dari mulutnya, tapi ternyata yang keluar
dari mulutnya adalah
“naon any*ng, goreng”
Atau
dalam bahasa Indonesianya, “apa, sih,
anj*ng, jelek”
Aku benar-benar
terkejut dengan jawabannya. Bahkan kedua temanku juga langsung melihat ke
arahku dengan wajah yang terkejut. Saat itu juga aku merasa mataku panas
sekali, tenggorokanku tercekat. Kata-katanya benar-benar menyakitkan. Aku berusaha
untuk menahan diri agar tidak menangis, tapi akhirnya tangisku pecah juga. Teman-teman
sekelasku mulai berdatangan. Tidak mungkin aku menangis di tengah-tengah orang
banyak. Akhirnya aku memutuskan pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Aku benar-benar
sakit hati dengan perkataan A.
Sejak
saat itu, tanpa aku sadari, aku menjadi orang yang sangat tertutup pada lelaki-dalam konteks yang
mengarah ke hubungan seperti pendekatan. Terutama jika ada yang mengajakku
berkenalan tanpa pernah bertemu sama sekali. Aku takut di saat mereka bertemu
denganku, mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang A bilang. Aku juga
selalu merasa rendah diri. Di kepalaku seperti sudah tertanam “aku jelek. Gak akan
ada yang mau sama aku”.
Makin
lama, rasa tidak percaya diri itu makin membesar dan aku juga jadi sulit untuk
bersosialisasi. Sudah bukan dalam konteks berkenalan dengan seorang laki-laki
yang bermaksud untuk pendekatan saja, tapi pada siapa pun. Bahkan dengan
perempuan juga ada rasa tidak percaya diri untuk berkenalan. Sudahlah memang
pemalu, ditambah lagi dengan trauma itu. Benar-benar masa yang gelap untukku.
Namun,
akhirnya sedikit demi sedikit aku sudah bisa "keluar" dari tembok tinggi, yang
aku bangun sendiri, setelah salah satu guru lesku bilang:
“Fan,
kamu, tuh, banyak yang suka. Tapi Bapak
gak tau kenapa orang-orang itu selalu dijauhin sama kamu.”
Sejak
saat itu aku berpikir, apa yang membuatku menjadi seperti itu. Setelah
menemukan jawabannya, aku benar-benar benci sekali dengan A. Pada awalnya aku
selalu menyalahkan si A atas trauma yang aku miliki. Namun, lama-lama aku
tersadar, luka ini memang ada diakibatkan oleh A, tapi untuk sembuh itu
pilihanku, bukan? Aku sampai ke titik di mana aku mulai berpikir, aku mau tetap
terus-menerus menyalahkan A dan tenggelam dalam trauma itu atau mulai memaafkan
dia dan belajar untuk menemukan diriku sendiri lagi. Akhirnya pelan-pelan aku
mulai menerima segala yang telah terjadi, menerima bahwa aku memiliki luka itu,
dan aku perlahan mulai menyembuhkan luka itu. Prosesnya panjang, memakan waktu
bertahun-tahun, dan melelahkan. Sepertinya aku juga tanpa sadar telah melukai
beberapa orang dalam proses itu.
Sekarang
semuanya terasa lebih baik meskipun rasa insecure
itu seringkali muncul lagi di saat saat yang tidak terduga, tapi aku selalu
berusaha untuk melawan rasa itu karena aku tidak mau ada di tempat yang
begitu-begitu saja.
Dari
kejadian ini, aku belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara dengan
orang lain dan tidak sembarangan mengucapkan kata-kata yang tidak baik pada
orang lain. Tidak semua orang bisa menerima perkataan kita-yang mungkin kita anggap
hanya candaan-dengan
lapang dada.
Friday, November 15, 2019
14 November 2019
Monday, November 4, 2019
November
Tentang Buku
Dari kecil, aku dan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ke mana pun aku pergi, akan ada buku di tanganku. Apa pun pencapaiannya,...
-
I. Validitas Riduwan (2016) menyebutkan validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan suatu kevalidan dan atau ke...
-
I. Populasi dan Sampel Menurut Sugiyono (2017: 61) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek ata...
-
I. Uji Validitas Uji validitias dilakukan untuk memastikan seberapa baik suatu instrumen digunakan untuk mengukur k...


