Wednesday, December 22, 2021

Masa Pertemanan yang Kuharap Tidak Pernah Berakhir

Dua hari yang lalu, 20 Desember 2021, hari yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Hari di mana aku dinyatakan lulus setelah sidang Tugas Akhir. Melegakan sekali rasanya bisa lulus setelah melalui banyak hambatan sebelumnya dan harus menambah semester. Membahagiakan walaupun rasanya masih tidak nyata. Entah karena suasananya yang kurang mendukung karena sidang kemarin diadakan secara daring atau karena masih ada sisa tanggung jawab--masih ada beberapa tugas UAS untuk mata kuliah pengganti skripsi yang aku kontrak.

Dua hari kemarin rasanya aku masih sangat menikmati pencapaianku itu. Namun, di saat grup Whatsapp yang isinya teman-teman dekatku selama kuliah mulai ramai lagi, tiba-tiba aku mulai merasa takut. Kemarin malam sih aku belum sadar apa yang aku rasakan. Aku hanya tiba-tiba mulai memikirkan 'gimana ya kalau nanti aku nikah, taunya dia gak dibolehin dateng sama pacarnya'. Aku memikirkan situasi itu karena di antara aku dan salah satu temanku itu sempat ada sesuatu yang terjadi. Aku mulai merasa ketakutan, merasa tidak rela kalau temanku itu nanti tidak bisa datang. Aku benar-benar ingin semua teman-temanku hadir merasakan kebahagiaan yang aku rasakan nanti. Cukup jauh bukan imajinasiku?

Sampai di malam kemarin aku masih berpikir kalau pikiran dan perasaan itu muncul karena 'hal' yang pernah terjadi sebelumnya, tapi malam ini aku sadar. Aku sadar bahwa aku ketakutan dan sadar apa yang membuatku ketakutan. Bukan hanya karena konflik yang pernah ada di antara aku dan temanku ini saja. Melainkan perasaan terdalamku mulai menyadari, kami berlima mulai lulus satu persatu. Kami berasal dari berbagai kota yang berbeda--ada satu yang tinggal di Bandung juga sih. Artinya, saat kami sudah lulus, kami akan kembali ke kota masing-masing--sebenarnya (lagi) semenjak pandemi kami memang ada di kota masing-masing, tapi setidaknya kami masih sama-sama menjadi mahasiswa dari jurusan yang sama, memiliki kegiatan yang sama di kampus--dan akan kembali menjadi orang 'asing'. Bukan benar-benar jadi tidak saling mengenal lagi, tapi kami sudah kembali ke kehidupan masing-masing. Mungkin nanti ada yang duluan sibuk bekerja, ada yang mendalami hobinya, ada yang kuliah lagi mungkin keluar negeri, atau malah sibuk karena sudah berkeluarga. Intinya benar-benar memiliki kehidupan sendiri, tidak lagi ke mana-mana janjian, pergi bersama, melakukan ini itu bersama-sama. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa masanya kami untuk bersama-sama mungkin akan perlahan-lahan berhenti mulai dari titik ini. Tidak berhenti berteman, tapi masa masa kami untuk sedekat ini sudah mulai berakhir. Rasanya sedih sekali ketika membayangkan kalau di masa depan kami tidak lagi sedekat sekarang, menjadi canggung terhadap satu sama lain, mereka tidak bisa hadir di waktu-waktu penting di hidupku.

Sedih, takut, dan tidak rela bercampur menjadi satu.

Aku berharap yang terbaik untuk mereka, untuk kami berlima. Aku ingin kami bahagia, sukses.. Tapi kalau aku boleh meminta, Tuhan, aku mohon supaya di kehidupan kami berlima yang aku doakan bahagia dan sukses itu masih ada kami berlima yang akrab, dekat, dan sama-sama selalu ada di setiap hal yang terjadi di hidup kami.

Tuesday, June 29, 2021

Patah Hati

Aku kira, aku tidak perlu merasakan hal seperti ini lagi jika bersamamu, Sayang.

Nyatanya, aku merasakannya.

Sudah beberapa hari ini. 

Bukan, bukan karena perpisahan. 

Namun, rasa sakit ini, rasanya seperti patah hati. 

Wednesday, January 6, 2021

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Covid-19 di Bidang Pendidikan oleh Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat mengadakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik sebagai salah satu kewajiban dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan KKNT ini biasanya dilaksanakan secara luring. Namun, kondisi di Indonesia saat ini tidak memungkinkan untuk diadakannya kegiatan yang dapat mengumpulkan banyak orang di suatu tempat demi mengurangi angka penyebaran virus Covid-19. Oleh karena itu, kegiatan KKNT ini dilaksanakan secara daring. Kemudian, tema yang diusung kali ini disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat, yaitu Edukasi Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Covid-19 yang difokuskan pada bidang pendidikan dan ekonomi.

    Pada kegiatan KKNT PPD Covid-19 kali ini, penulis memfokuskan kegiatan di bidang pendidikan. Pada program ini, penulis melaksanakan pembuatan media pembelajaran untuk guru, pendampingan siswa dalam pembelajaran daring, dan pendampingan orang tua murid dalam membimbing anak pada pembelajaran daring.

Pada pembuatan media pembelajaran, penulis membantu seorang guru bahasa Inggris dalam membuat powerpoint yang dikonversi menjadi video.

Pada pendampingan siswa, penulis berusaha semaksimal mungkin membantu siswa pada mata pelajaran yang sulit dipahami. Penulis juga membantu kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran daring.

Pada pendampingan orang tua, penulis berusaha membantu orang tua mencari solusi atas kesulitan yang dihadapi orang tua selama mendampingi anaknya dalam pembelajaran daring.

Sunday, October 4, 2020

Pendewasaan

Tiga hari yang lalu, aku bertemu dan mengobrol dengan temanku. Dari percakapan kami di hari itu, ada dua kalimat yang terpatri di kepalaku. Kurang lebih seperti ini: “orang punya hak untuk gak cerita” dan “niatnya ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing mau pacaran sama maneh’”

 

“orang punya hak untuk gak cerita”

Ya, memang benar. Maka dari itu, entah sejak kapan, aku mulai belajar untuk tidak menanyakan hal-hal personal sebelum orangnya cerita terlebih dahulu. Meskipun itu teman dekatku sekali pun. Bukan tidak peduli, tetapi berusaha mengurangi kekepoan akan hidup orang lain. Aku tidak harus mengetahui segala hal yang ada di hidup temanku. Begitu pun sebaliknya. Kalau pun aku menanyakan tentang hidup mereka, ya, yang aku tanya hanya hidup mereka secara general. Seperti bagaimana kabar mereka akhir-akhir ini? Adakah hal-hal yang mengganggu? Hanya hal-hal seperti itu. Jika mereka jawab semuanya baik-baik saja padahal aku tahu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja, ya, aku hargai hak mereka untuk tidak bercerita. Namun, akan aku tekankan apabila mereka butuh tempat bercerita, aku akan ada untuk mendengarkannya. Aku tidak akan memaksa mereka bercerita, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku ada untuk mereka.

 

“niatnya ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing mau pacaran sama maneh’”

Aku sangat setuju dengan kalimat di atas. Aku pun merasakan perbedaannya. Di saat aku “mengejar” seseorang dengan tujuan ‘aku harus berpacaran dengan dia’, kemungkinan kecewanya sangat besar. Entah karena aku akhirnya tidak mendapatkan orang tersebut atau di saat aku sudah bersatu dengan orang yang aku inginkan, ternyata banyak hal tentang orang tersebut yang tidak dapat aku terima. Dan apabila tujuannya seperti itu, ada kemungkinan apa yang kita rasakan akan berubah menjadi sebuah obsesi, tanpa kita sadari. Namun, di saat aku berniat untuk membangun hubungan baik dengan seseorang yang memang menarik untukku, semuanya terasa lebih nyaman. Nyaman karena tidak ada keharusan bahwa aku dan orang tersebut harus bersatu. Jika memang saling merasa nyaman untuk melangkah ke hubungan yang lebih dari pertemanan, kami bisa menjalaninya dengan santai. Apabila tidak ada hal-hal spesial yang terasa di antara kami, ya, sudah, toh dari awal kami memang hanya ingin berteman baik. Tidak ada kekecewaan yang menyakitkan.


Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan pada tulisan ini. Hanya saja, obrolan itu sangat berbekas di kepalaku.

Rasanya semakin bertambah umurku, semakin banyak obrolan-obrolan yang aku resapi dan jadikan pembelajaran. Obrolan seperti ini seringkali membuatku berpikir kembali, apakah pandangan hidupku sudah tepat untukku dan orang-orang di sekitarku? Jadi, bukan hanya sekadar mengobrol untuk menghabiskan waktu. Dan hal ini benar-benar membuatku belajar pelan-pelan merangkak menapaki tangga pendewasaan diri satu persatu.

Sunday, August 23, 2020

Tembok Tinggi

 

Entah ada angin apa, tiba-tiba aku ingin sekali menuliskan tentang seseorang yang pernah singgah di hidupku-walaupun sangat sebentar. Namun, dia membuat diriku berubah. Berubah menjadi ‘si pengecut’. Dulu, aku adalah orang yang sangat percaya diri, terutama dalam hal percintaan ha ha ha. Untuk urusan berkenalan dengan orang baru, sih, aku termasuk orang yang pemalu. Namun, kalau aku sudah kenal dengan seseorang dan aku menyukainya, aku akan dengan agresif menunjukkan rasa sukaku pada orang tersebut. Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang (?) ha ha ha, maksudku, semuanya berubah saat aku mengenal dirinya. Aku ingat sekali hari itu hari Rabu, jam istirahat pertama setelah kelas matematika. Aku masih kelas 10 pada saat itu. Aku sedang sendirian di kelas karena teman-temanku semuanya sedang ke kantin, hanya aku saja yang tetap berada di kelas. Tiba-tiba ada dua orang lelaki datang ke kelasku-sebut saja mereka si G dan si A, mereka kakak kelasku. Jelas sekali aku tahu maksud mereka datang ke kelasku untuk apa: untuk mencari temanku yang digebet oleh G. Setelah berbasa-basi menanyakan temanku, tiba-tiba si A mendekatiku dan menyodorkan handphone-nya padaku.

“Boleh minta ID Line kamu?” kata kakak kelasku itu. Dia memiliki perawakan yang lebih tinggi, lebih berisi dari gebetan temanku, dan memakai kacamata.

Aku tanya, “buat apa?”

“Biar lebih deket aja,” jawab A. Aku dengan spontan langsung mendengus saat mendengar jawabannya. Namun, bodohnya, aku malah memberikan ID Line-ku padanya. Setelah itu mereka keluar dari kelasku. Beberapa saat kemudian, teman-temanku mulai kembali satu-persatu ke kelas. Dan tiba-tiba ada segerombolan temanku bilang, “Fan, ada salam dari Kak A. Tadi dia nanyain rumah kamu di mana”. Aku berusaha untuk menganggap itu sebagai angin lalu saja.

Beberapa hari setelah itu, muncul chat dari A. Aku lupa dia basa-basi apa saja, tapi akhirnya dia menawarkan untuk berangkat ke sekolah bersama. Aku sempat menolaknya beberapa kali, tapi dia tetap memaksa dan akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Di dalam mobilnya, aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Jadi, aku hanya melihat ke arah luar jendela dan sesekali menjawab pertanyaannya. Kami tidak masuk ke sekolah bersama karena dia harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Aku berusaha untuk tidak ge-er hanya karena dijemput oleh A. Namun, saat jam istirahat, dia datang dengan teman-temannya ke selasar kelas IPS. Bahkan mereka mencariku juga. Entah kenapa di situ aku merasa yakin bahwa dia memang berniat mendekatiku.

Namun, setelah hari itu, A menghilang. Tidak pernah ada chat darinya lagi. Sampai suatu hari aku bertemu dengan dia di kantin, tapi dia hanya diam saja. Akhirnya begitu sampai di kelas, aku berinisiatif untuk mengirimkan chat duluan pada A, tapi tidak ada jawaban. Padahal aku melihatnya sedang menggunakan handphone saat melewati kelasku. Aku cukup kecewa karena tidak ada balasan darinya. Jadi, ya, sudah, aku anggap tidak terjadi apa-apa di antara kami.

Aku pikir semuanya akan berhenti di hari itu. Ternyata, keesokan harinya, dia dan G datang lagi ke kelasku. Pagi itu, di kelas baru ada aku dan dua teman laki-lakiku. G bertanya pada kami, “S belum dateng?”. Teman-temanku menjawab sekenanya saja. Kemudian, G dengan iseng mengatakan, “eh, A, itu si Fani”. Jujur, aku tidak mengharapkan jawaban apa pun dari mulutnya, tapi ternyata yang keluar dari mulutnya adalah

“naon any*ng, goreng”

Atau dalam bahasa Indonesianya, “apa, sih, anj*ng, jelek”

Aku benar-benar terkejut dengan jawabannya. Bahkan kedua temanku juga langsung melihat ke arahku dengan wajah yang terkejut. Saat itu juga aku merasa mataku panas sekali, tenggorokanku tercekat. Kata-katanya benar-benar menyakitkan. Aku berusaha untuk menahan diri agar tidak menangis, tapi akhirnya tangisku pecah juga. Teman-teman sekelasku mulai berdatangan. Tidak mungkin aku menangis di tengah-tengah orang banyak. Akhirnya aku memutuskan pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Aku benar-benar sakit hati dengan perkataan A.

Sejak saat itu, tanpa aku sadari, aku menjadi orang yang sangat tertutup pada lelaki-dalam konteks yang mengarah ke hubungan seperti pendekatan. Terutama jika ada yang mengajakku berkenalan tanpa pernah bertemu sama sekali. Aku takut di saat mereka bertemu denganku, mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang A bilang. Aku juga selalu merasa rendah diri. Di kepalaku seperti sudah tertanam “aku jelek. Gak akan ada yang mau sama aku”.

Makin lama, rasa tidak percaya diri itu makin membesar dan aku juga jadi sulit untuk bersosialisasi. Sudah bukan dalam konteks berkenalan dengan seorang laki-laki yang bermaksud untuk pendekatan saja, tapi pada siapa pun. Bahkan dengan perempuan juga ada rasa tidak percaya diri untuk berkenalan. Sudahlah memang pemalu, ditambah lagi dengan trauma itu. Benar-benar masa yang gelap untukku.

Namun, akhirnya sedikit demi sedikit aku sudah bisa "keluar" dari tembok tinggi, yang aku bangun sendiri, setelah salah satu guru lesku bilang:

“Fan, kamu, tuh, banyak yang suka. Tapi Bapak gak tau kenapa orang-orang itu selalu dijauhin sama kamu.”

Sejak saat itu aku berpikir, apa yang membuatku menjadi seperti itu. Setelah menemukan jawabannya, aku benar-benar benci sekali dengan A. Pada awalnya aku selalu menyalahkan si A atas trauma yang aku miliki. Namun, lama-lama aku tersadar, luka ini memang ada diakibatkan oleh A, tapi untuk sembuh itu pilihanku, bukan? Aku sampai ke titik di mana aku mulai berpikir, aku mau tetap terus-menerus menyalahkan A dan tenggelam dalam trauma itu atau mulai memaafkan dia dan belajar untuk menemukan diriku sendiri lagi. Akhirnya pelan-pelan aku mulai menerima segala yang telah terjadi, menerima bahwa aku memiliki luka itu, dan aku perlahan mulai menyembuhkan luka itu. Prosesnya panjang, memakan waktu bertahun-tahun, dan melelahkan. Sepertinya aku juga tanpa sadar telah melukai beberapa orang dalam proses itu.

Sekarang semuanya terasa lebih baik meskipun rasa insecure itu seringkali muncul lagi di saat saat yang tidak terduga, tapi aku selalu berusaha untuk melawan rasa itu karena aku tidak mau ada di tempat yang begitu-begitu saja.

Dari kejadian ini, aku belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara dengan orang lain dan tidak sembarangan mengucapkan kata-kata yang tidak baik pada orang lain. Tidak semua orang bisa menerima perkataan kita-yang mungkin kita anggap hanya candaan-dengan lapang dada.

Friday, November 15, 2019

14 November 2019




Kemarin, tanggal 14 November 2019 aku dapat beberapa pelajaran baru dan benar-benar merasa beruntung, berterima kasih, bersyukur, dan masih banyak lagi. Aku benar-benar gak bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan lewat kata-kata, tapi aku akan berusaha menuliskan semua yang aku rasakan di hari kemarin.

Mungkin hal pertama yang ingin aku bahas itu tentang pelajaran yang aku dapatkan tepat di hari ulang tahunku. Di hari bahagiaku—aku benar-benar bahagia sejak bangun tidur hingga sebelum sebuah masalah datang. Aku tidak akan menjelaskan masalahnya apa, tapi yang jelas hari itu, aku sadar di umurku yang sudah segini (21 tahun), aku sudah gak boleh ikut campur dengan urusan orang lain lagi. Apapun cerita yang aku dengar dari orang lain—entah benar atau tidak—cukup sampai di aku saja ceritanya. Aku tidak boleh lagi mencari-cari kebenaran dengan bertanya pada orang lain karena dampaknya gosip itu hanya akan menyebar dan menimbulkan banyak spekulasi tidak berdasar. Lalu, jangan lagi berusaha meluruskan pandangan orang-orang tentang gosip itu jika tidak diminta oleh pemilik ceritanya. Dan pelajaran yang kedua adalah orang tidak pernah berubah (tidak semua orang seperti ini, ya). Apalagi kalau lingkungan orang tersebut tidak pernah berubah juga. Mau berapa tahun berlalu pun, ya tetap seperti itu wataknya. ß ini hanya opiniku. Opini berdasarkan pengalamanku. Karena aku juga sadar ada beberapa watakku yang tidak pernah berubah sejak kecil (sekuat apapun aku mengubahnya, watak itu tetap ada di diriku).

Aku bersyukur karena orang-orang di sekitar aku sangat peduli dan sayang padaku. Bahkan ada temanku yang tiba-tiba berterima kasih padaku karena aku selalu ingat sama dia dari kecil sampai sekarang. Tentu saja aku akan selalu ingat dia, dia adalah sahabatku sewaktu SD. Tidak mungkin aku lupa padanya. Lalu, aku merasa sangat senang ketika melihat teman-teman dekatku di kampus menerima bungkusan nasi kuning yang dibuat mamaku dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Walaupun sebenarnya aku agak sedih karena tidak bisa mentraktir mereka makanan yang lebih enak dan lebih mahal. Aku juga mendapatkan hadiah dari mereka. Aku terharu karena dengan memberi hadiah artinya mereka masih memikirkan aku. Padahal aku merasa tidak pantas mendapatkan perhatian mereka. Oh, iya, bahkan ada yang ingat aku ingin dikasih hadiah apa saat ulang tahun dan dia benar-benar memberikan itu sebagai hadiah. Kalian tau apa hadiahnya? Ha ha ha.. Ini mungkin terkesan sangat random, tapi aku mendapat hadiah sosis instan. Aku benar-benar suka makan sosis instan dan sempat bilang ke teman-teman dan keluargaku, kalau ulang tahun nanti aku ingin dikasih hadiah sosis instan satu stoples.

Kemudian banyak sekali ucapan-ucapan selamat yang masuk melalui instagramku. Padahal selama setahun ini aku sedang di fase sangat malas mengucapkan selamat pada teman-temanku ketika mereka ulang tahun. Dan yang terakhir, yang benar-benar membuatku bahagia dan terharu—bahkan terharunya masih berlanjut sampai hari ini saat aku kuliah—hadiah dari sahabatku sejak kecil. Dia juga ulang tahun di bulan November, jadi kemarin kami bertukar hadiah di rumahku. Dia memberikan aku satu buket bunga yang dia rangkai sendiri dan sebuah buku resep kue—aku yakin ini pasti harganya mahal sekali. Dia bilang, dia memberikan aku buku resep karena sewaktu SD kami sering sekali masak bersama, terutama setiap akan buka puasa bersama. Buku resep ini lumayan memotivasi aku untuk mulai belajar membuat kue lagi setelah sekian lama aku tidak menyentuh bahan-bahan kue. Untuk buket bunga, kalian harus tau, sampai detik ini aku masih tersenyum setiap melihat bunga itu. Sejak SMP, aku selalu mendambakan hadiah sebuket bunga yang cantik dari laki-laki yang aku suka, tapi aku gak pernah dapat itu ha ha ha. Dan kemarin, untuk pertama kalinya aku mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sebuket bunga. Mungkin bunga ini memang bukan dari seorang laki-laki yang aku suka, tapi tetap saja aku merasa bahagia dan senang sekali karena ini dari sahabatku. Aku pikir, hadiah ini juga jadi terasa sangat spesial karena dia adalah sahabatku. Sepertinya kalau mendapatkan bunga dari seorang laki-laki itu hal yang biasa, bukan? Satu hal lagi yang aku syukuri dari sahabatku ini adalah kami masih bersahabat sampai sekarang dan kami bisa “merayakan” ulang tahun kami seperti kemarin bersama. Aku harap kami bisa bersahabat terus selamanya. Harapan ini juga berlaku untuk semua sahabatku.

Terakhir, semoga dengan bertambahnya umurku, aku bisa menemukan banyak hal baru lagi di hidupku (semoga semuanya hal-hal yang baik), aku bisa lebih produktif lagi, bisa menyembuhkan trauma-traumaku, bisa menemukan jati diri seorang fani lagi yang sudah lama terkubur karena banyak faktor, pokoknya bisa berubah jadi fani yang lebih baik lagi dari fani yang sebelumnya. Aamiin.

Monday, November 4, 2019

November

November adalah bulan yang paling aku suka dan aku tunggu-tunggu setiap tahunnya. Alasan yang pertama, jelas karena ulang tahunnku jatuh pada bulan November. Alasan yang kedua adalah karena bulan November selalu hujan. Aku suka sekali kalau hujan turun dan aku bisa menikmati sejuknya angin dan aroma tanah yang selalu muncul ketika hujan turun. Hujan yang aku maksud di sini bukan hujan yang disertai angin kencang dan petir yang menggelegar, ya. Hujan yang kumaksud adalah hujan yang turun dengan tenang. Deras tetapi tidak menyeramkan, atau biasa aku sebut "hujan romantis". Teman-temanku sering sekali menertawakan sebutanku untuk hujan yang aku sukai itu, tetapi memang itu yang aku rasakan. Tahu, kan, hujan yang sering muncul saat adegan-adegan romantis di sebuah film atau sinetron? Ya, hujan yang seperti itu. Hujan yang sering turun pada bulan November itu biasanya tenang, tidak disertai angin kencang dan petir. Hujan yang membuatku bisa tetap berjalan di bawahnya bersama payung kesayanganku dengan tenang dan bahagia. Tiap kali hujan itu turun, perasaanku yang sedang buruk rasanya menjadi lebih baik. Aku merasakan kebahagiaan muncul di hatiku hanya karena merasakan sejuknya udara berkat hujan itu.

Ah, sepertinya aku tau apa alasanku menamakan hujan itu sebagai "hujan romantis". Setiap "hujan romantis" itu turun, aku selalu teringat masa SD-ku, saat aku duduk di kelas empat. Waktu itu, di hari ulang tahunku, kelasku dimulai siang hari (karena sekolahku sedang direnovasi). Sebelum sekolah, aku mengundang teman-temanku ke rumah untuk menghadiri pesta ulang tahunku (padahal tidak bisa disebut pesta juga, sih, he he). Nah, saat kami akan berangkat ke sekolah, ternyata hujan turun. Akhirnya kami tetap berangkat, tetapi menggunakan payung dan jas hujan yang selalu kami bawa. Rasanya bahagia bisa berlarian di bawah hujan bersama teman-teman menggunakan jas hujan dan payung yang kami punya (sebenarnya, alasan kami senang memakai payung dan jas hujan adalah tidak lain dan tidak bukan hanya untuk pamer bahwa kepunyaan kami yang paling bagus). Lalu, aku dan teman-teman sekolahku yang rumahnya berdekatan sering sekali bermain sepeda di bawah hujan (salah satu dari mereka ada pacarku saat itu. Ha ha ha, waktu SD aku sudah punya pacar. Padahal kami sama-sama tidak tahu, apa itu pacaran). Aku merasa kenangan-kenangan itu sangat romantis. Romantisnya bukan hanya karena ada mantan pacarku di setiap kenangan itu, tetapi karena kebersamaanku dengan teman-temanku. Waah, rasanya ingin sekali kembali ke masa-masa itu.

Setelah membaca tulisanku dari atas sampai bawah, sepertinya hanya aku yang akan mengerti tulisan ini ha ha ha. Apakah di antara kalian ada yang menyukai "hujan romantis" juga sepertiku?

Teruntuk teman-teman SD-ku, aku kangen banget sama kaliaaaaaannn!!!

Tentang Buku

Dari kecil, aku dan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ke mana pun aku pergi, akan ada buku di tanganku. Apa pun pencapaiannya,...