Sunday, October 4, 2020

Pendewasaan

Tiga hari yang lalu, aku bertemu dan mengobrol dengan temanku. Dari percakapan kami di hari itu, ada dua kalimat yang terpatri di kepalaku. Kurang lebih seperti ini: “orang punya hak untuk gak cerita” dan “niatnya ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing mau pacaran sama maneh’”

 

“orang punya hak untuk gak cerita”

Ya, memang benar. Maka dari itu, entah sejak kapan, aku mulai belajar untuk tidak menanyakan hal-hal personal sebelum orangnya cerita terlebih dahulu. Meskipun itu teman dekatku sekali pun. Bukan tidak peduli, tetapi berusaha mengurangi kekepoan akan hidup orang lain. Aku tidak harus mengetahui segala hal yang ada di hidup temanku. Begitu pun sebaliknya. Kalau pun aku menanyakan tentang hidup mereka, ya, yang aku tanya hanya hidup mereka secara general. Seperti bagaimana kabar mereka akhir-akhir ini? Adakah hal-hal yang mengganggu? Hanya hal-hal seperti itu. Jika mereka jawab semuanya baik-baik saja padahal aku tahu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja, ya, aku hargai hak mereka untuk tidak bercerita. Namun, akan aku tekankan apabila mereka butuh tempat bercerita, aku akan ada untuk mendengarkannya. Aku tidak akan memaksa mereka bercerita, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku ada untuk mereka.

 

“niatnya ngebangun relasi yang baik, bukan ‘aing mau pacaran sama maneh’”

Aku sangat setuju dengan kalimat di atas. Aku pun merasakan perbedaannya. Di saat aku “mengejar” seseorang dengan tujuan ‘aku harus berpacaran dengan dia’, kemungkinan kecewanya sangat besar. Entah karena aku akhirnya tidak mendapatkan orang tersebut atau di saat aku sudah bersatu dengan orang yang aku inginkan, ternyata banyak hal tentang orang tersebut yang tidak dapat aku terima. Dan apabila tujuannya seperti itu, ada kemungkinan apa yang kita rasakan akan berubah menjadi sebuah obsesi, tanpa kita sadari. Namun, di saat aku berniat untuk membangun hubungan baik dengan seseorang yang memang menarik untukku, semuanya terasa lebih nyaman. Nyaman karena tidak ada keharusan bahwa aku dan orang tersebut harus bersatu. Jika memang saling merasa nyaman untuk melangkah ke hubungan yang lebih dari pertemanan, kami bisa menjalaninya dengan santai. Apabila tidak ada hal-hal spesial yang terasa di antara kami, ya, sudah, toh dari awal kami memang hanya ingin berteman baik. Tidak ada kekecewaan yang menyakitkan.


Sejujurnya aku tidak tahu apa yang ingin aku sampaikan pada tulisan ini. Hanya saja, obrolan itu sangat berbekas di kepalaku.

Rasanya semakin bertambah umurku, semakin banyak obrolan-obrolan yang aku resapi dan jadikan pembelajaran. Obrolan seperti ini seringkali membuatku berpikir kembali, apakah pandangan hidupku sudah tepat untukku dan orang-orang di sekitarku? Jadi, bukan hanya sekadar mengobrol untuk menghabiskan waktu. Dan hal ini benar-benar membuatku belajar pelan-pelan merangkak menapaki tangga pendewasaan diri satu persatu.

Sunday, August 23, 2020

Tembok Tinggi

 

Entah ada angin apa, tiba-tiba aku ingin sekali menuliskan tentang seseorang yang pernah singgah di hidupku-walaupun sangat sebentar. Namun, dia membuat diriku berubah. Berubah menjadi ‘si pengecut’. Dulu, aku adalah orang yang sangat percaya diri, terutama dalam hal percintaan ha ha ha. Untuk urusan berkenalan dengan orang baru, sih, aku termasuk orang yang pemalu. Namun, kalau aku sudah kenal dengan seseorang dan aku menyukainya, aku akan dengan agresif menunjukkan rasa sukaku pada orang tersebut. Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang (?) ha ha ha, maksudku, semuanya berubah saat aku mengenal dirinya. Aku ingat sekali hari itu hari Rabu, jam istirahat pertama setelah kelas matematika. Aku masih kelas 10 pada saat itu. Aku sedang sendirian di kelas karena teman-temanku semuanya sedang ke kantin, hanya aku saja yang tetap berada di kelas. Tiba-tiba ada dua orang lelaki datang ke kelasku-sebut saja mereka si G dan si A, mereka kakak kelasku. Jelas sekali aku tahu maksud mereka datang ke kelasku untuk apa: untuk mencari temanku yang digebet oleh G. Setelah berbasa-basi menanyakan temanku, tiba-tiba si A mendekatiku dan menyodorkan handphone-nya padaku.

“Boleh minta ID Line kamu?” kata kakak kelasku itu. Dia memiliki perawakan yang lebih tinggi, lebih berisi dari gebetan temanku, dan memakai kacamata.

Aku tanya, “buat apa?”

“Biar lebih deket aja,” jawab A. Aku dengan spontan langsung mendengus saat mendengar jawabannya. Namun, bodohnya, aku malah memberikan ID Line-ku padanya. Setelah itu mereka keluar dari kelasku. Beberapa saat kemudian, teman-temanku mulai kembali satu-persatu ke kelas. Dan tiba-tiba ada segerombolan temanku bilang, “Fan, ada salam dari Kak A. Tadi dia nanyain rumah kamu di mana”. Aku berusaha untuk menganggap itu sebagai angin lalu saja.

Beberapa hari setelah itu, muncul chat dari A. Aku lupa dia basa-basi apa saja, tapi akhirnya dia menawarkan untuk berangkat ke sekolah bersama. Aku sempat menolaknya beberapa kali, tapi dia tetap memaksa dan akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Di dalam mobilnya, aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Jadi, aku hanya melihat ke arah luar jendela dan sesekali menjawab pertanyaannya. Kami tidak masuk ke sekolah bersama karena dia harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Aku berusaha untuk tidak ge-er hanya karena dijemput oleh A. Namun, saat jam istirahat, dia datang dengan teman-temannya ke selasar kelas IPS. Bahkan mereka mencariku juga. Entah kenapa di situ aku merasa yakin bahwa dia memang berniat mendekatiku.

Namun, setelah hari itu, A menghilang. Tidak pernah ada chat darinya lagi. Sampai suatu hari aku bertemu dengan dia di kantin, tapi dia hanya diam saja. Akhirnya begitu sampai di kelas, aku berinisiatif untuk mengirimkan chat duluan pada A, tapi tidak ada jawaban. Padahal aku melihatnya sedang menggunakan handphone saat melewati kelasku. Aku cukup kecewa karena tidak ada balasan darinya. Jadi, ya, sudah, aku anggap tidak terjadi apa-apa di antara kami.

Aku pikir semuanya akan berhenti di hari itu. Ternyata, keesokan harinya, dia dan G datang lagi ke kelasku. Pagi itu, di kelas baru ada aku dan dua teman laki-lakiku. G bertanya pada kami, “S belum dateng?”. Teman-temanku menjawab sekenanya saja. Kemudian, G dengan iseng mengatakan, “eh, A, itu si Fani”. Jujur, aku tidak mengharapkan jawaban apa pun dari mulutnya, tapi ternyata yang keluar dari mulutnya adalah

“naon any*ng, goreng”

Atau dalam bahasa Indonesianya, “apa, sih, anj*ng, jelek”

Aku benar-benar terkejut dengan jawabannya. Bahkan kedua temanku juga langsung melihat ke arahku dengan wajah yang terkejut. Saat itu juga aku merasa mataku panas sekali, tenggorokanku tercekat. Kata-katanya benar-benar menyakitkan. Aku berusaha untuk menahan diri agar tidak menangis, tapi akhirnya tangisku pecah juga. Teman-teman sekelasku mulai berdatangan. Tidak mungkin aku menangis di tengah-tengah orang banyak. Akhirnya aku memutuskan pergi ke kamar mandi dan menangis di sana. Aku benar-benar sakit hati dengan perkataan A.

Sejak saat itu, tanpa aku sadari, aku menjadi orang yang sangat tertutup pada lelaki-dalam konteks yang mengarah ke hubungan seperti pendekatan. Terutama jika ada yang mengajakku berkenalan tanpa pernah bertemu sama sekali. Aku takut di saat mereka bertemu denganku, mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang A bilang. Aku juga selalu merasa rendah diri. Di kepalaku seperti sudah tertanam “aku jelek. Gak akan ada yang mau sama aku”.

Makin lama, rasa tidak percaya diri itu makin membesar dan aku juga jadi sulit untuk bersosialisasi. Sudah bukan dalam konteks berkenalan dengan seorang laki-laki yang bermaksud untuk pendekatan saja, tapi pada siapa pun. Bahkan dengan perempuan juga ada rasa tidak percaya diri untuk berkenalan. Sudahlah memang pemalu, ditambah lagi dengan trauma itu. Benar-benar masa yang gelap untukku.

Namun, akhirnya sedikit demi sedikit aku sudah bisa "keluar" dari tembok tinggi, yang aku bangun sendiri, setelah salah satu guru lesku bilang:

“Fan, kamu, tuh, banyak yang suka. Tapi Bapak gak tau kenapa orang-orang itu selalu dijauhin sama kamu.”

Sejak saat itu aku berpikir, apa yang membuatku menjadi seperti itu. Setelah menemukan jawabannya, aku benar-benar benci sekali dengan A. Pada awalnya aku selalu menyalahkan si A atas trauma yang aku miliki. Namun, lama-lama aku tersadar, luka ini memang ada diakibatkan oleh A, tapi untuk sembuh itu pilihanku, bukan? Aku sampai ke titik di mana aku mulai berpikir, aku mau tetap terus-menerus menyalahkan A dan tenggelam dalam trauma itu atau mulai memaafkan dia dan belajar untuk menemukan diriku sendiri lagi. Akhirnya pelan-pelan aku mulai menerima segala yang telah terjadi, menerima bahwa aku memiliki luka itu, dan aku perlahan mulai menyembuhkan luka itu. Prosesnya panjang, memakan waktu bertahun-tahun, dan melelahkan. Sepertinya aku juga tanpa sadar telah melukai beberapa orang dalam proses itu.

Sekarang semuanya terasa lebih baik meskipun rasa insecure itu seringkali muncul lagi di saat saat yang tidak terduga, tapi aku selalu berusaha untuk melawan rasa itu karena aku tidak mau ada di tempat yang begitu-begitu saja.

Dari kejadian ini, aku belajar untuk lebih berhati-hati ketika berbicara dengan orang lain dan tidak sembarangan mengucapkan kata-kata yang tidak baik pada orang lain. Tidak semua orang bisa menerima perkataan kita-yang mungkin kita anggap hanya candaan-dengan lapang dada.

Friday, November 15, 2019

14 November 2019




Kemarin, tanggal 14 November 2019 aku dapat beberapa pelajaran baru dan benar-benar merasa beruntung, berterima kasih, bersyukur, dan masih banyak lagi. Aku benar-benar gak bisa mendeskripsikan apa yang aku rasakan lewat kata-kata, tapi aku akan berusaha menuliskan semua yang aku rasakan di hari kemarin.

Mungkin hal pertama yang ingin aku bahas itu tentang pelajaran yang aku dapatkan tepat di hari ulang tahunku. Di hari bahagiaku—aku benar-benar bahagia sejak bangun tidur hingga sebelum sebuah masalah datang. Aku tidak akan menjelaskan masalahnya apa, tapi yang jelas hari itu, aku sadar di umurku yang sudah segini (21 tahun), aku sudah gak boleh ikut campur dengan urusan orang lain lagi. Apapun cerita yang aku dengar dari orang lain—entah benar atau tidak—cukup sampai di aku saja ceritanya. Aku tidak boleh lagi mencari-cari kebenaran dengan bertanya pada orang lain karena dampaknya gosip itu hanya akan menyebar dan menimbulkan banyak spekulasi tidak berdasar. Lalu, jangan lagi berusaha meluruskan pandangan orang-orang tentang gosip itu jika tidak diminta oleh pemilik ceritanya. Dan pelajaran yang kedua adalah orang tidak pernah berubah (tidak semua orang seperti ini, ya). Apalagi kalau lingkungan orang tersebut tidak pernah berubah juga. Mau berapa tahun berlalu pun, ya tetap seperti itu wataknya. ß ini hanya opiniku. Opini berdasarkan pengalamanku. Karena aku juga sadar ada beberapa watakku yang tidak pernah berubah sejak kecil (sekuat apapun aku mengubahnya, watak itu tetap ada di diriku).

Aku bersyukur karena orang-orang di sekitar aku sangat peduli dan sayang padaku. Bahkan ada temanku yang tiba-tiba berterima kasih padaku karena aku selalu ingat sama dia dari kecil sampai sekarang. Tentu saja aku akan selalu ingat dia, dia adalah sahabatku sewaktu SD. Tidak mungkin aku lupa padanya. Lalu, aku merasa sangat senang ketika melihat teman-teman dekatku di kampus menerima bungkusan nasi kuning yang dibuat mamaku dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Walaupun sebenarnya aku agak sedih karena tidak bisa mentraktir mereka makanan yang lebih enak dan lebih mahal. Aku juga mendapatkan hadiah dari mereka. Aku terharu karena dengan memberi hadiah artinya mereka masih memikirkan aku. Padahal aku merasa tidak pantas mendapatkan perhatian mereka. Oh, iya, bahkan ada yang ingat aku ingin dikasih hadiah apa saat ulang tahun dan dia benar-benar memberikan itu sebagai hadiah. Kalian tau apa hadiahnya? Ha ha ha.. Ini mungkin terkesan sangat random, tapi aku mendapat hadiah sosis instan. Aku benar-benar suka makan sosis instan dan sempat bilang ke teman-teman dan keluargaku, kalau ulang tahun nanti aku ingin dikasih hadiah sosis instan satu stoples.

Kemudian banyak sekali ucapan-ucapan selamat yang masuk melalui instagramku. Padahal selama setahun ini aku sedang di fase sangat malas mengucapkan selamat pada teman-temanku ketika mereka ulang tahun. Dan yang terakhir, yang benar-benar membuatku bahagia dan terharu—bahkan terharunya masih berlanjut sampai hari ini saat aku kuliah—hadiah dari sahabatku sejak kecil. Dia juga ulang tahun di bulan November, jadi kemarin kami bertukar hadiah di rumahku. Dia memberikan aku satu buket bunga yang dia rangkai sendiri dan sebuah buku resep kue—aku yakin ini pasti harganya mahal sekali. Dia bilang, dia memberikan aku buku resep karena sewaktu SD kami sering sekali masak bersama, terutama setiap akan buka puasa bersama. Buku resep ini lumayan memotivasi aku untuk mulai belajar membuat kue lagi setelah sekian lama aku tidak menyentuh bahan-bahan kue. Untuk buket bunga, kalian harus tau, sampai detik ini aku masih tersenyum setiap melihat bunga itu. Sejak SMP, aku selalu mendambakan hadiah sebuket bunga yang cantik dari laki-laki yang aku suka, tapi aku gak pernah dapat itu ha ha ha. Dan kemarin, untuk pertama kalinya aku mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sebuket bunga. Mungkin bunga ini memang bukan dari seorang laki-laki yang aku suka, tapi tetap saja aku merasa bahagia dan senang sekali karena ini dari sahabatku. Aku pikir, hadiah ini juga jadi terasa sangat spesial karena dia adalah sahabatku. Sepertinya kalau mendapatkan bunga dari seorang laki-laki itu hal yang biasa, bukan? Satu hal lagi yang aku syukuri dari sahabatku ini adalah kami masih bersahabat sampai sekarang dan kami bisa “merayakan” ulang tahun kami seperti kemarin bersama. Aku harap kami bisa bersahabat terus selamanya. Harapan ini juga berlaku untuk semua sahabatku.

Terakhir, semoga dengan bertambahnya umurku, aku bisa menemukan banyak hal baru lagi di hidupku (semoga semuanya hal-hal yang baik), aku bisa lebih produktif lagi, bisa menyembuhkan trauma-traumaku, bisa menemukan jati diri seorang fani lagi yang sudah lama terkubur karena banyak faktor, pokoknya bisa berubah jadi fani yang lebih baik lagi dari fani yang sebelumnya. Aamiin.

Monday, November 4, 2019

November

November adalah bulan yang paling aku suka dan aku tunggu-tunggu setiap tahunnya. Alasan yang pertama, jelas karena ulang tahunnku jatuh pada bulan November. Alasan yang kedua adalah karena bulan November selalu hujan. Aku suka sekali kalau hujan turun dan aku bisa menikmati sejuknya angin dan aroma tanah yang selalu muncul ketika hujan turun. Hujan yang aku maksud di sini bukan hujan yang disertai angin kencang dan petir yang menggelegar, ya. Hujan yang kumaksud adalah hujan yang turun dengan tenang. Deras tetapi tidak menyeramkan, atau biasa aku sebut "hujan romantis". Teman-temanku sering sekali menertawakan sebutanku untuk hujan yang aku sukai itu, tetapi memang itu yang aku rasakan. Tahu, kan, hujan yang sering muncul saat adegan-adegan romantis di sebuah film atau sinetron? Ya, hujan yang seperti itu. Hujan yang sering turun pada bulan November itu biasanya tenang, tidak disertai angin kencang dan petir. Hujan yang membuatku bisa tetap berjalan di bawahnya bersama payung kesayanganku dengan tenang dan bahagia. Tiap kali hujan itu turun, perasaanku yang sedang buruk rasanya menjadi lebih baik. Aku merasakan kebahagiaan muncul di hatiku hanya karena merasakan sejuknya udara berkat hujan itu.

Ah, sepertinya aku tau apa alasanku menamakan hujan itu sebagai "hujan romantis". Setiap "hujan romantis" itu turun, aku selalu teringat masa SD-ku, saat aku duduk di kelas empat. Waktu itu, di hari ulang tahunku, kelasku dimulai siang hari (karena sekolahku sedang direnovasi). Sebelum sekolah, aku mengundang teman-temanku ke rumah untuk menghadiri pesta ulang tahunku (padahal tidak bisa disebut pesta juga, sih, he he). Nah, saat kami akan berangkat ke sekolah, ternyata hujan turun. Akhirnya kami tetap berangkat, tetapi menggunakan payung dan jas hujan yang selalu kami bawa. Rasanya bahagia bisa berlarian di bawah hujan bersama teman-teman menggunakan jas hujan dan payung yang kami punya (sebenarnya, alasan kami senang memakai payung dan jas hujan adalah tidak lain dan tidak bukan hanya untuk pamer bahwa kepunyaan kami yang paling bagus). Lalu, aku dan teman-teman sekolahku yang rumahnya berdekatan sering sekali bermain sepeda di bawah hujan (salah satu dari mereka ada pacarku saat itu. Ha ha ha, waktu SD aku sudah punya pacar. Padahal kami sama-sama tidak tahu, apa itu pacaran). Aku merasa kenangan-kenangan itu sangat romantis. Romantisnya bukan hanya karena ada mantan pacarku di setiap kenangan itu, tetapi karena kebersamaanku dengan teman-temanku. Waah, rasanya ingin sekali kembali ke masa-masa itu.

Setelah membaca tulisanku dari atas sampai bawah, sepertinya hanya aku yang akan mengerti tulisan ini ha ha ha. Apakah di antara kalian ada yang menyukai "hujan romantis" juga sepertiku?

Teruntuk teman-teman SD-ku, aku kangen banget sama kaliaaaaaannn!!!

Thursday, December 20, 2018

Peluk


Hari Selasa, 18 Desember 2018, kuberanikan diri untuk memeluk seorang teman yang kurasa sedang membutuhkan pelukan. Terlihat sok tahu, tapi aku benar-benar tidak dapat berdiam diri lagi melihat keadaan ini. Mari kita sebut dia A. Jadi, di jurusanku, lebih tepatnya angkatanku, ada sedikit konflik yang berhubungan dengan si A. Intinya kami mempermasalahkan tentang sikap dia. Ya, tidak menutup fakta bahwa aku pun seringkali sebal karena sikapnya, tetapi di luar sikapnya yg tidak aku sukai aku tetap berteman baik dengan A. Karena aku pikir, untuk apa terus-menerus mempermasalahkan sikap orang lain yang padahal aku juga punya banyak sikap yang tidak disukai oleh teman-temanku sendiri.
Namun, setelah berminggu-minggu kuperhatikan, ada beberapa teman yang masih saja menunjukkan rasa tidak sukanya pada A. Padahal masalahnya sudah lewat. Daaan.. puncaknya adalah sehari sebelumnya. Temanku menyindir A dengan cara yang menurutku kurang tepat. Aku yang ada di sampingnya saat itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa bersalah karena ucapan temanku itu. Padahal kami akan melaksanakan ujian, aku khawatir sekali itu akan berdampak pada ujiannya hari itu. Pokoknya, aku tidak berani melihat ke arahnya sepanjang ujian pagi itu. Setelah ujian, A langsung keluar kelas dan meninggalkan bukunya. Saat aku telepon untuk memastikan di mana keberadaan dia, aku dikejutkan oleh suara dia yang terdengar sedih. Aku mulai khawatir pada saat itu. ketika ujian yang kedua, dia datang, tetapi  (lagi lagi aku sok tahu) dari punggungnya aku seperti bisa melihat kesedihannya. Sepanjang perjalanan pulang, aku berpikir, bagaimana kalau aku yang ada di posisi A? Aku saja saat dijauhi oleh teman-teman dekatku rasanya seperti duniaku sudah hancur, apalagi jika dibicarakan dan dijauhi oleh teman-teman seangkatan? Aku memikirkan bagaimana cara menyemangatinya. Lalu aku teringat apa yang aku inginkan ketika sedang down, yaitu pelukan. Jujur, aku takut untuk menunjukkan kepedulianku lewat pelukan. Aku takut dia malah berpikir, “apaan sih peluk-peluk”. Aku ragu untuk melakukannya. Akhirnya aku berusaha mencari cara lain untuk menyemangatinya.
Pada malam harinya, ternyata dia tidak datang karena sakit. Aku semakin khawatir. Akhirnya aku mencoba berbicara pada teman-temanku yang lain. Tanpa kusangka, jawaban mereka yang aku tanya hampir sama. Mereka merasa tidak enak pada A dan merasa sindiran itu sudah benar-benar keterlaluan, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba melangkah duluan untuk menyemangati A.
Akhirnya pada hari Selasa, kami bertemu. Namun, aku tidak terpikirkan untuk menyemangatinya pagi itu karena kami sibuk dari pagi. Ketika acara selesai, kami mengadakan evaluasi. Saat evaluasi, dia mencoba untuk meminta maaf. Aku di situ sudah berkaca-kaca karena mengingat kejadian di kelas hari kemarin. Tanggapan teman-teman yang ada di tempat itu cukup beragam. Namun, yang benar-benar terasa olehku itu lebih banyak orang-orang yang tidak peduli dengan kata maaf yang terucap dari mulutnya. Aku reflek melihat ke arahnya. Ketika aku melihat ekspresinya, aku langsung membuang muka lagi dan menangis. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu.
Setelah evaluasi selesai, keputusanku sudah bulat. Aku harus maju duluan untuk memberikan dukungan kepada A. Aku tidak mau dia berlarut-larut tenggelam dalam lautan kesedihannya dan menghancurkan kehidupan sehari-harinya. Aku berusaha membuang rasa malu-ku dan meminta izin untuk memeluknya. Saat aku memeluknya, aku sampaikan kalau aku merasa bersalah padanya. Dia agak kebingungan, dan aku berusaha menjelaskannya. Namun, aku tidak kuat, aku benar-benar ingin menangis. Akhirnya aku berbicara mengenai alasan mengapa aku merasa bersalah di punggungnya agar dia tidak melihat ekspresiku. Lalu dia menjawab dengan kalimat yang membuatku semakin sedih. Saat dia berbalik ke arahku, ternyata matanya sudah bengkak karena dipenuhi air mata. Aku tidak tega melihat ekspresinya, akhirnya aku peluk lagi dia dengan erat. Namun, setiap aku melepaskan pelukanku darinya, aku selalu berakhir memeluknya kembali. Setelah aku melepas pelukan itu, entah aku yang sok tahu atau bagaimana, tetapi aku bisa merasakan dan bisa melihat dari ekspresinya bahwa dia benar-benar membutuhkan dukungan dari teman. Dia masih membutuhkan dukungan itu, karena itu lah aku tidak bisa melepaskannya. Aku berusaha untuk membuatnya nyaman dengan dukunganku. Matanya tak bisa berbohong. Dia masih membutuhkan pelukan itu.
Oh, iya, berkat kejadian ini, aku dapat melihat ketulusan teman dekatku, kita sebut saja dia B. Selama ini dia seringkali memendam apa yang dia rasakan tentang orang lain, kalau pun dia membicarakan tentang apa yang dia rasakan, ya sudah itu hanya berakhir menjadi bahan perbincangan kami saja. Namun, hari itu dia menunjukkan ketulusannya yang jarang sekali bisa kulihat. Dari cara dia merangkul dan bersandar pada bahu A, aku benar-benar merasakan ketulusan dari B. Ah, menggemaskan sekali temanku ini. Ha ha ha.

Hei, A! Aku tidak tahu kamu membaca tulisanku ini atau tidak. Maaf jika tulisanku ada yang membuatmu sakit hati dan terlihat sangat sok tahu dengan menebak-nebak apa yang kamu rasakan pada saat itu. Namun, aku berharap semoga pelukan dan dukungan itu bisa membuatmu kembali merasa disayangi. Tidak semua orang membencimu, kok. Mereka hanyalah segelintir dari sekian banyak orang yang menyayangimu. Jangan lagi katakan bahwa kamu tidak memiliki teman, kamu memiliki teman.
Aku temanmu.
Percayalah, tanganku akan selalu terbuka bila kamu membutuhkan pelukan dan dukungan.

Dan untuk teman-temanku yang lain, tanganku juga terbuka untuk kalian yang membutuhkan pelukan dan dukungan. Cukup katakan bahwa kalian butuh pelukan, dan aku akan datang.
Untuk teman-teman lamaku, maaf jika di masa lalu aku pernah menolak untuk memeluk kalian di saat kalian membutuhkan pelukan. Pada saat itu, aku tidak tahu kalau pelukan itu benar-benar dapat membangkitkan lagi semangat seseorang. Sekali lagi, aku minta maaf.

With love,
Fani.

Monday, October 1, 2018

Atma Asta 2018


Sabtu kemarin, tanggal 29 September 2018, aku dateng ke acaranya SMAN 8 Bandung, Atma Asta: HIFESTUS. Aku bener-bener excited waktu liat akun instagram Atma Asta aktif lagi bersamaan dengan posting-an mereka tentang merchandise yang mereka jual. Gimana enggak excited, Atma Asta baru hadir lagi setelah dua tahun, Bro, Sist, kangen maksimal jadinya. Aku juga dengan semangatnya beli tiket Atma Asta karena ini bisa jadi sebuah momentum untuk reuni kecil-kecilan sama temen-temen SMA.
Sebenernya niat aku nulis ini adalah untuk menyampaikan rasa terima kasih dan rasa bangga ke mereka, panitia Atma Asta 2018. Jadi, langsung aja kali, ya..

Buat kalian, panitia Atma Asta 2018.
Aku memang bukan bagian dari panitia Atma Asta tahun lalu. Namun, aku, sebagai alumni dari almamater yang aku cintai, ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada kalian. Karena kalian sudah mewujudkan impian alumni kalian yang belum tercapai. Mungkin banyak orang di luar sana yang memberi kritik dengan bahasa yang kurang enak dibaca dan didengar, tetapi aku harap kalian tidak patah semangat karena ucapan mereka. Aku harap, apa yang mereka ucapkan bisa menjadi penyemangat kalian. Penyemangat untuk membuktikan, bahwa kalian bisa membuat acara yang jauh lebih baik dari yang kemarin. Yang harus kalian ingat, mau seperti apapun orang-orang di luar sana mencemooh dan merendahkan hasil kerja keras kalian, untukku kalian sangat luar biasa. Semua kekurangan yang ada di acara kemarin, jadikan pembelajaran agar kalian semakin baik dan matang untuk ke depannya. Sekali lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian. Malam minggu kemarin adalah malam minggu yang sangat berharga untukku. Berkat Atma Asta, aku bisa berkumpul lagi dengan teman-teman yang aku rindukan.
Terima kasih, Atma Asta 2018.
Aku bangga banget sama kalian!!!
Ditunggu, ya, Atma Asta 2019-nya :)

Wednesday, July 25, 2018

21.56

Betapa bodohnya aku masih mengharapkan kamu ada di sisiku.

Setahun yang lalu aku terbiasa dengan hadirmu di setiap aku sedang dalam keadaan tidak baik.

Kamu selalu hadir dengan kata-kata semangatmu, doa-doa baik darimu, dan kekhawatiranmu untukku.

Entah aku yang salah mengartikan sikapmu padaku atau memang kita memiliki perasaan yang sama?

Apapun kenyataannya, bagaimana perasaanmu padaku, aku merasa bodoh karena aku tidak pernah mengungkapkan perasaan ini dan tidak pernah berusaha untuk memperjelas tentang hubungan yang kita miliki.

Karena asumsi yang kubuat sendiri, aku terlalu berharap padamu, pada janji-janjimu yang bisa saja itu hanya candaan bagimu mungkin? Banyak sekali hal yang mengganjal di hatiku tentangmu.

Banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Aku ingin segera lepas dari rasa sakit ini.

Namun, aku tidak tahu bagaimana caranya terlepas dari perasaan ini.

Aku tidak tahu kapan perasaan ini akan menghilang, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menikmati rasa sakit ini dan menunggu waktu menyembuhkan lukaku.


25 Juli 2018

Tentang Buku

Dari kecil, aku dan buku adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ke mana pun aku pergi, akan ada buku di tanganku. Apa pun pencapaiannya,...